Pulosari nan asri, biar pendek, berasa di kaki membekas di hati

Percayalah, selalu saja ada sensasi dan kisah plus pengalaman seru berbeda di tiap pendakian dan perjalanan. Yang kali ini, di tengah iklim yang sebenarnya kurang bersahabat saya ikut rombongan Mas Sujar dan kawan-kawannya menuju Gunung Pulosari, Pandeglang, Banten.

Kawah_Gunung_Pulosari

Seperti biasa setiap melakukan perjalanan atau pendakian saya selalu ‘pamit’ dengan beberapa sahabat yang dijaman kuliah jadi sohib sependakian. Beberapa dari mereka reaksinya sama, “Gendeng, cuaca nggak bersahabat begini nekat amat naik gunung.” Maklum, sudah beberapa minggu belakangan, hampir tiap hari Jakarta diguyur hujan lebat. Bahkan sehari sebelum pendakian, Jakarta kembali terendam banjir dan membuat kemacetan parah di pagi hari. Apalagi saya  berangkat sehari sebelum Imlek, mitosnya, hujan selalu turun di kala Imlek, pertanda berkah katanya.

Tapi keputusan sudah dibuat, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang, caelaaahh, kayak mo ngapain aje gw yeeee….daan yang bikin hati berdesir, sepulang pendakian, televisi menyajikan berita meletusnya gunung berapi di beberapa wilayah di Indonesia. “Antara tuhan males ketemu elo atau emang masih sayang sama lo,” begitu reaksi beberapa kawan sepulangnya saya dari pendakian ini.

Awal_trek_pendakian

Pendakian dilakukan pada Kamis-Jumat (30-31) Januari lalu, kali ini total anggota tim berjumlah 6  orang. Mengingat waktu liburan yang singkat, maka pilihan pendakian jatuh ke Gunung Pulosari, Pandeglang Banten, mengingat ketinggian gunung ini relatif bersahabat yakni 1346 mdpl. Walaupun setelah dijalani ternyata lumayan berat, menguras banyak peluh tapi cukup menyenangkan untuk didaki.

Saya juga sebenarnya baru denger ada Gunung Pulosari, maka sebelum berangkat saya coba mempelajari medannya lewat kisah di blog. Ternyata sudah cukup banyak juga yang berkunjung kesana. Menurut catatan Wikipedia, Gunung Pulosari yang berada di Kabupaten Pandeglang, Banten ini sekalipun termasuk gunung berapi tapi tidak ada data letusan yang pernah terjadi. Hanya saja ada aktivitas fumarol alias asap karbondioksida, sulfur yang keluar dari perut bumi...itu juga kata Wikipedia, ilmu bumi saya nggak sampe sono…hahaha

Yang jelas, sejarahnya, Gunung Pulosari menjadi gunung keramat buat Kerajaan Sunda. Itu kenapa sampai hari ini Gunung Pulosari masih kerap dikunjungi sebagai tempat petilasan dan ziarah warga lokal. Pantes aja, pas turun gunung saya banyak berpapasan dengan bapak-bapak warga lokal yang mendaki bahkan tanpa alas kaki, ‘Sekalian terapi neng’ jawab mereka setiap saya tanya kenapa telanjang kaki. …’sehat sih pak, cuma nggak gitu juga kaleeee’

Kembali ke kisah pendakian, hari Kamis pagi kami janjian kumpul di Stasiun Pondok Ranji, Tangerang untuk menuju ke Rangkas Bitung.  Setelah saling berkenalan dan meet and greet sekenanya, kami langsung menuju Rangkas dengan kereta ekonomi. Keretanya sangat ‘merakyat’, suara pedagang riuh rendah menemani hampir 2 jam perjalanan kami, sampe-sampe tukang salak dari jual salak Rp30 ribu untuk 30 buah, sampe Rp30 ribu dapet 50 buah plus bonus lagi sekepalan tangan…

Kami tiba di Rangkas sekitar pukul 11.30, perjalanan kami lanjutkan dengan angkot menuju Mengger, tadinya mau sewa langsung sampai TKP tapi apa daya tawar menawar terlalu alot. Sesampainya di terminal kami diarahkan si supir angkot naik elf, untung saja belum keluar terminal kami menyadari kami salah naik angkutan. Usut punya usut si supir angkot yang mengarahkan kami salah dengar, dia pikir kami menuju Cibuleger untuk lanjut menuju Badui, padahal kami mau ke Mengger. Akhirnya, setelah keributan kecil, kami tawar menawar dengan supir angkot lain untuk langsung mengantar sampai gerbang pendakian Gunung Pulosari. Tawar menawar harga, pas, tancap gasss…begitu kata mas Iwan Fals 

Banyak blog menyebutkan nama Warung Emak sebagai basecamp sebelum memulai pendakian, karena dari warung emak menuju ke pintu masuk pendakian bisa dilalui dengan jalan kaki, naik ojek tapi tidak ada angkot. Tapi karena kami sewa angkot jadilah kami tidak sempat menyambangi Warung Emak yang fenomenal itu,  hanya salah satu anggota tim muter balik menuju warung emak untuk membeli makan siang yang ala kadarnya.

Curug_Putri

Setelah makan siang dan membayar pendaftaran sebesar Rp5000/orang sekitar pukul 14.20 pendakian dimulai. Jalan setapak berupa konblok menyambut kami, alangkah senangnya, tapi hanya beberapa meter di depan, jalan konblok pun habis dan jalan berbatu menemani langkah kami. Mendaki dengan sedikit ‘bonus’ membuat napas saya tersengal-sengal, kira-kira 2 jam perjalanan sekitar pukul 16.20 kami sampai juga di Curug Putri, alkisah air terjun ini tempat mandinya para putri atawa bidadari, makanya gw mandi juga disono…*maksud? Hahaha….Setelah beberapa aksi narsis dan selfie sepuasnya, perjalanan kami lanjutkan karena sore makin menjelang.

Yang lucu, entah karena tenda yang saya tempati harganya mahal jadi terasa hangat, atau memang hawa sekitar kawah membuat hangat, saya sempat terbangun karena basah kuyup keringat membasahi sekujur tubuh. Alhasil, jaket dan sleeping bag saya lepas, seumur-umur naik gunung, baru ini tidur malam kegerahan biasanya menggigil.

Esok pagi, sekitar pukul 4.50 kami sudah siap melakukan summit attack dengan semangat membara. Tapi apa daya, dua kali salah jalur membuat kami kesiangan dan menyerah lalu kembali ke tenda dengan basah kuyup dan muka pucat karena treknya gilaaa. Summit attack gagal sodara-sodara, karena kami lalai orientasi medan sebelumnya. Tapi ya sudahlah, semoga ada rejeki bisa menjajal kembali.

Jadilah pagi itu kami isi kembali dengan aksi-aksi foto model berbagai gaya….

Setelah sarapan dengan menu yang wah, kami bergegas packing, kembali turun karena kawan-kawan anggota tim harus kembali bergulat dengan pekerjaan malam harinya.

Go home, Back to life back to reality…

Pendakian yang singkat namun jadi pelarian yang ampuh dari rutinitas yang memburu setiap hari. Khasanah pertemanan saya pun bertambah, pengalaman batinnya juga bertambah, karena sekalipun mendaki gunung bukan hal baru buat saya, namun tetap saja trek Gunung Pulosari begitu menantang dan meninggalkan kesan mendalam.

Jangan meremehkan gunung yang kesannya pendek sekalipun, karena alam punya caranya sendiri mematahkan kesombongan manusia sekaligus menanamkan kerendahan hati. Sekali lagi, mendaki gunung adalah soal menaklukan ketakutan dan kelemahan diri sendiri.

So, sampai ketemu lagi di kisah petualangan selanjutnya…*JO-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *