Menguatnya Ekonomi Rakyat, Maraknya Bisnis Kedai Kopi di Indonesia

Oleh: Bagas Hapsoro

 Triphacks.id – Jakarta, Selama 3 minggu terakhir ini, disaat pandemi Covid-19 belum usai, kedai kopi tidak saja rame tetapi tumbuh baru lagi. Saya menerima beberapa undangan ngopi dari seorang teman di bangku sekolah, kemudian ”jawilan” dari para mantan pemain gaple di warung senggol ketika mahasiswa dulu. Namun tidak kurang ada beberapa expat yang mengajak ngopi bareng. Wah para expat ini lebih gesit kalau ”mengendus” Cafe dan Roastery di Jabodetabek. Bukan main. 

Dari lima undangan peresmian Cafe dan Roastery saya, akhirnya saya hanya bisa memenuhi dua undangan. Satu di Pondok Aren, Tangerang dan satunya lagi di Bekasi. Kedua kedai kopi ini mempunyai persamaan. Ramah pada lingkungan. Mempunyai halaman yang luas serta pepohonan yang rindang. Yang saya perhatikan dari peresmian di Pondok Aren dan acara roasting di Bekasi itu.

Perkembangan kedai kopi di Indonesia selalu diamati media internasional Menurut catatan International Coffee Organization (ICO) tahun 2020 peningkatan konsumsi kopi domestik Indonesia periode 2014-2019 lumayan besar.

Dari catatan Katadata.com, konsumsi kopi domestik di Indonesia sejak 8 tahun yang lalu mengalami peningkatan. Sebetulnya masyarakat yang menggerakkan roda perekonomian tersebut. Dalam statistik dibawah ini terlihat bahwa harga kopi makin terjangkau dan harga meskipun mahal khususnya pada kopi spesialti tetapi kualitas bersaing.

Jumlah Gerai Coffee Shop Indonesia 2019-2020

Pihak luar khususnya para investor telah melirik Indonesia sebagai tempat yang bagus untuk menanamkan modal untuk mengembangkan kopi berkualitas. Menurut Pusat Riset Statista di Berlin tahun 2021 yang lalu, mata rantai kopi Janji Jiwa memiliki jumlah gerai kedai kopi terbesar di Indonesia dengan total 800 lokasi. Dalam dua tahun setelah didirikan, Janji Jiwa telah melampaui Starbucks sebagai rantai kopi terkemuka di Indonesia.

Tercatat Starbucks memiliki 365 kedai di seluruh Indonesia (Statista, Berlin, April 2021). Kemudian tercatat bulan Desember 2021 yang lalu Kopi Kenangan menjadi unicorn. Kopi Kenangan berhasil mengantongi US$ 96 juta atau Rp 1,37 triliun (asumsi kurs Rp 14.300/US$). Pendanaan ini dipimpin oleh Tybourne Capital Management dan partisipasi dari investor lain seperti Horizons Ventures, Kunlun, dan B Capital, dan investor baru Falcon Edge Capital. CEO Kopi Kenangan Edward Tirtanata mengatakan pendanaan ini nantinya akan digunakan perusahaan untuk memperluas jejaring bisnisnya di kawasan Asia Tenggara

Es Kopi Susu yang Menguasai Indonesia

Tren minuman es kopi susu yang dimaniskan dengan gula aren cair belakangan ini, yang dikenal dengan es kopi susu, telah menggeser preferensi konsumen Indonesia dari meminum minuman lain ke kopi susu.

Minuman inilah yang memungkinkan kedai kopi lokal seperti Janji Jiwa, Kopi Kulo, dan Kopi Kenangan, mengambil alih pasar kafe di Indonesia. Es kopi susu memungkinkan kedai kopi lokal untuk menggabungkan espresso yang baru diseduh dengan rasa tradisional dengan harga terjangkau. Secangkir es kopi susu mulai dari 1,2 dollar AS, sedangkan kedai kopi papan atas, seperti Starbucks, menjual es kopi latte 2,5 kali lebih tinggi daripada alternatif lokal (Statistica, April

Kedai Kopi Lokal Mampu Beradaptasi dengan Lockdown

Selama wabah Covid-19, strategi jualan online tampaknya bekerja lebih baik karena pelanggan mereka sebagian besar bekerja dari rumah. Mereka beradaptasi dengan menjual es kopi susu botol satu liter pre-mixed dan bekerja sama dengan perusahaan seperti Go-Jek, Tokopedia, dan Traveloka, untuk mengantarkan kopi mereka ke konsumen. Rantai kopi lokal telah membuktikan diri lebih inovatif dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19.

 Konsumsi Kopi Indonesia Meningkat 4 kali Lipat

Konsumsi kopi domestik Indonesia meningkat hampir empat kali lipat sejak tahun 1990, mencapai setara dengan 4,8 juta kantong kopi 60 kilogram pada 2019/2020. Permintaan yang meningkat ini didorong oleh generasi muda yang beralih dari teh ke kopi, dan apresiasi baru terhadap kopi yang diproduksi secara lokal.

Penelitian tentang perkembangan bisnis kedai kopi di Indonesia juga dilakukan oleh Toffin. Toffin adalah “coffee business platform,” satu solusi komprehensif untuk pembelian mesin, bahan baku, pelatihan, jasa layanan perbaikan untuk industri kopi dan Horeca (hotel, restoran, dan kafe). Toffin melakukan wawancara dengan para pemangku kepentingan di industri kedai kopi Indonesia. Hasil wawancara menunjukkan bahwa ada tujuh faktor yang mendorong pertumbuhan bisnis kedai kopi di Indonesia, yaitu:

1. Kebiasaan nongkrong sambil minum kopi.

2. Meningkatnya daya beli konsumen, tumbuhnya kelas menengah, dan harga RTD (ready-to-drink) kopi di toko-toko modern semakin terjangkau.

3. Peranan anak muda yang menciptakan gaya hidup baru dalam mengkonsumsi kopi.

4. Adanya medsos yang memberikan kemudahan bagi para pebisnis coffee shop untuk melakukan kegiatan pemasaran dan promosi.

5. Hadirnya platform ride hailing (Grabfood dan Gofood) yang mempermudah proses penjualan.

6. Rendahnya jumlah entry barrier dalam bisnis kopi yang didukung oleh ketersediaan bahan baku, peralatan (mesin kopi) dan sumber daya untuk membangun bisnis kedai kopi.

7. Margin usaha kedai kopi relatif tinggi.

Melihat perkembangan faktor pendorong tersebut, tidak bisa disangsikan bahwa bisnis kedai kopi di Indonesia akan tetap positif beberapa tahun depan. Namun demikian menuju pengembangan kopi Indonesia yang ramah lingkungan, kiranya edukasi kopi kepada masyarakat dapat dilakukan di Cafe yang terbuka dan eco-friendly. 

Barista selain menyeduh kopi juga bisa memperkenalkan keragaman kopi yang asli, unik dan berkualitas. Apalagi anak muda Indonesia yang menciptakan gaya hidup baru dalam mengkonsumsi kopi. Saya rasa ini merupakan upaya inovatif untuk mengkonservasi alam sambil ngopi. 

Perlunya Keseimbangan antara Ekonomi dan Ekosistem

Dengan maraknya bisnis kedai kopi ini merupakan indikator semakin menguatnya ekonomi rakyat. Apalagi 96 persen  dari luas lahan pertanian adalah milik rakyat. Pada saat yang sama tentu kita perlukan aspek sustainability (keberlangsungan). Seperti minyak bumi maka ketersediaan kopipun ada batasnya. Ada proses kerusakan alam yang konstan, yaitu perubahan iklim. Cepat atau lambat itu terjadi dan kerusakannya tergantung dari manusia yang mengelola. Pengembangan agroindustri kopi yang berkelanjutan pada penelitian tentu akan menghasilkan strategi sosial, teknologi, lingkungan, dan ekonomi.

Oleh karena itu penekanan pada aspek kualitas kopi dan kesejahteraan petani tidak bisa dilepaskan dari edukasi. Tidak hanya kepada petani tetap juga milenia. Jangan sampai kopi generasi mendatang pelan-pelan kita habiskan sekarang. Diperlukan komitmen bagi para pengambil keputusan dalam pengembangan agroindustri kopi yang berkelanjutan. Kiranya kerjasama yang erat antar instansi pemerintah, pengusaha, akademisi serta badan-badan kerjasama internasional perlu diperkuat.ars

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.