Peranan Perempuan Semakin Meningkat di Kemlu

Triphacks.id-Jakarta, ”Perempuan memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan dan efektivitas dari decisions”, demikian respon Dubes RI/Watap untuk PBB di Wina, Dr. Darmansjah Djumala ketika ditanya salah satu peserta pada Webinar dengan Universitas Sriwijaya (UNSRI), Senin (5/4).

Webinar yang diselenggarakan UNSRI tersebut membedah buku ”Diplomasi: Kiprah para Diplomat Indonesia di Mancanegara”.

Dihadiri oleh 298 peserta termasuk beberapa mahasiswa WNI dari berbagai negara lain. Ditambahkan oleh Djumala bahwa kenyataan ini merupakan perwujudan dari upaya Indonesia untuk terus menyuarakan peran dan kontribusi perempuan sebagai subyek pengambil keputusan di tataran nasional dan global.

”Dalam kedua periode Kabinet Presiden Jokowi ini, Kemlu juga maju dan sukses dibawah kepemimpinan perempuan, Menlu Retno Marsudi”, ujar Darmansjah yang juga merupakan alumnus Fakultas Ekonomi UNSRI tersebut.

Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif tersebut, Dubes Bagas Hapsoro, mantan Kepala Perwakilan RI untuk Swedia menyatakan pentingnya memperbaiki cara pandang dan mindset masyarakat terhadap keterlibatan perempuan. Fasilitasi peranan perempuan dalam membangun dan mendidik perempuan perlu dimulai sejak awal. Tidak boleh ada pembedaan dengan pria dalam pemberian kesempatan.

Sambutan hangat diberikan oleh Prof. Dr. Kgs. Muhammad Sobri, M.Si, Dekan FISIP Unsri saat membuka acara, yang mencatat antusiasme sekitar hampir 300 peserta yang mendaftar serta menyimak hingga akhir acara daring tersebut.

“Pandemi Covid-19 memberikan hikmah pelaksanan kegiatan secara daring, sehingga dapat menghadirkan para Duta Besar penulis dan editor buku pada kesempatan ini”, kata Prof. Sobri.

Selanjutnya Dr. H. Azhar, Kepala Jurusan Hubungan Internasional Fisip UNSRI menyatakan bahwa dalam konteks perubahan paradigma pendidikan nasional melalui program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka, mahasiswa dituntut untuk tidak saja mendalami kajian teoritis, tetapi juga memperkuat mengenai aspek praktis di lapangan. Disampaikan juga bahwa kesempatan bertemu langung dan berdiskusi dengan para editor buku merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya.

Darmansjah Djumala sebagai salah satu pembicara menyatakan bahwa tujuan penyusunan buku Diplomasi adalah dilandasi oleh keinginan para penulis untuk berbagi pengalaman dan memberi kontribusi pemikiran bagi masa depan diplomasi Indonesia. Pengalaman diperoleh dan digali saat mereka ditugaskan sebagai diplomat di berbagai negara.

Dubes RI di Wina ini mengambil contoh tulisan dari Dubes Niniek Kun Naryati terkait masalah Ukraina. Dilema yang dihadapi Ukraina adalah pilihan sulit: apakah berpihak kepada negara Barat atau tetap di bawah wilayah pengaruh Rusia. Ketika menghadapi krisis di Ukraina, penulis yang saat itu menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Ukraina secara gamblang menyampaikan arti penting reporting tentang kondisi negara akreditasi kepada Kementerian Luar Negeri guna menentukan posisi Indonesia secara tepat.

Contoh lain yang tidak kalah pentingnya adalah sengketa antara negara bertetangga Azerbaijan dan Armenia, wilayah yang disengketakan adalah Nogorno-Karabah. Dalam situasi tersebut Dubes Prayono memberikan analisa tentang situasi dan saran kebijakan yang layak menjadi pertimbangan Pejambon.

Nara sumber kedua, Bagas Hapsoro menyatakan bahwa pilar politik luar negeri itu ada 4 (empat), yakni kedaulatan NKRI, melindungi WNI, diplomasi ekonomi dan peran Indonesia di fora internasional. ”Kreativitas sangat diperlukan agar keempat pilar tersebut dapat terlaksana dengan baik melalui konsultasi dengan Pusat”, ujar Deputi Sekjen ASEAN periode 2009-2012 tersebut. Kemlu melalui BPPK dan Unit terkait merancang assessment tools yang bisa digunakan untuk menilai negara potensial untuk kerja sama. ”Oleh karena itu masukan UNSRI juga bisa menjadi materi berharga bagi Kemlu”, pungkas Bagas. ars

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *