Selamat Jalan Tommy Pratama Managing Director Original Production “Your Dream Come True

Triphacks.id-Jakarta, Keheningan sore itu mendadak membuncah, sesaat setelah di grup WhatsApp Original Production terulis “Telah meninggal dunia kakak,teman,sahabat kami tercinta H.Tommy Pratama Hernanto pada hari Jumat (16 Juli 2021) pada pukul 17.56 WIB.

Beliau meninggal selagi menjalani isoman. Mohon di buka kan pintu maaf yg sebesar2nya,di ampuni segala dosanya dan di lapangkan kuburnya Aamiin..”

Tommy Pratama , sang promotor pemilik Original Production menjadi korban  dari keganasan Covid-19 di usianya yang 52 tahun. Masa pandemic ini banyak memupuskan proyek yang digagas Tommy, dikarenakan kegiatan yang dilakukan memang harus banyak mendatangkan orang.Sementara larangan pemerintah untuk tidak membuat kerumunan menjadi halangan yang nyata.

Tidak putus asa, Tommy terus bergerak, bahkan sudah mendatangi beberapa daerah wisata yang nantinya bila pandemik berakhir akan digelar konser musik dunia berlatar belakang tempat wisata.

Namun pada akhir bulan Juni 2021, Tommy mengumumkan bahwa dirinya terdeteksi positif Covid-19 dan melakukan isolasi mandiri.  

Sekedar membuka ingatan, Tommy Pratama adalah tokoh dibalik layar dari konser Iron Maiden yang diselenggarakan pada tahun 2013, di Jakarta dan Bali. Tommy begitu sapaan akrabnya. Salah satu tokoh Promoter – Showbiz di ranah musik kenamaan negeri ini. Beberapa band legendaries kelas dunia pernah didatangkannya  ke Indonesia.

Ketika dimintai cerita mengenai kerterarikannya dengan Promoter – Showbiz, Tommy hanya menjawab sederhana. Mimpi. Dan, mimpi itu yang mengantarkan Tommy Pratama seperti sekarang ini. 

Tommy mencoba mengulang memori puluhan tahun silam, ketika dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tommy kecil, saat itu adalah murid ‘nakal’ yang sering kena hukuman guru ketika sedang belajar. Ketika, guru sedang menjelaskan mata pelajaran ilmu pasti, Tommy kecil justru sedang asik menggambar.

Goresan pencil diatas kertas pun tidak lazim di masanya. Sebab, Ia selalu menggambar panggung konser musik, yang berisikan alat musik seperti drum, tata lampu, sound system, orang sedang bermain gitar, dan lainnya. Dalam gambar ditulis  beberapa nama band besar, seperti Deep Purple, Iron Maiden—yang tentu belum dikenal oleh teman sekelasnya.

Alhasil, Tommy kecil pun disetrap alias dihukum oleh sang guru. Lantas teman sekelasnya  mulai mengejek, karena selalu kena hukuman. Merasa dibuli, akhirnya Tommy kecil pun saat itu berujar, “Suatu saat, saya akan mendatangkan mereka dan konser di Indonesia.”

Setelah 20 tahun kemudian, saat Deep Purple menggelar konser di Indonesia, beberapa rekan sekolahnya dulu di SDN 1 Menteng atau lebih kesohor dengan sebutan SD Besuki, menghampirinya kemudian memeluk dan mereka berkata Your Dream Come True. 

“Jika saya mengingat masa lalu, saya selalu dibuat merinding untuk mengisahkan hal seperti ini. Sebab, Saya sendiri pun tidak menyangka mimpi yang menjadi ejekan teman masa SD bisa terwujud hingga sekarang,” ungkap Tommy.

Salah satu promoter musik dengan sepesialisasi band legend kelas dunia ini pun kembali mengisahkan, pengetahuan tentang musik dan deretan grup band rock yang kini menjadi legenda itu datang dari adik sang Ayah tercintanya. 

“Dulu Om saya itu, setiap hari selalu nyetel musik rock. Yang pada akhirnya, saya pun mau tidak mau menjadi paham dan hapal dengan nama-nama grup musik seperti Deep Purple, Genesis, Iron Maiden, Megadeth, Bon Jovi, dan yang lainnya,” kenang Tommy.

Showbiz  Jadi Kebanggaan

Tommy Pratama yang besar dari lingkungan pemusik, justru pada akhirnya Ia menjalani garis hidup yang berbeda dari keluarganya. Ia lebih memilih industri musik, bukan sebagai pemusik atau menjadi musisi.

Cikal bakal inilah, yang mengantarkan Tommy mendirikan bendera Original Production sebagai promoter –showbiz di tahun 1991. Hanya berselang tiga tahun, yakni tahun 1994, Tommy pun mendatangkan band Air Supply untuk konser di Jakarta dan Surabaya. 

Setahun kemudian, memboyong Bon Jovi untuk konser di Jakarta. “Bangga, haru, campur aduk menjadi satu. Ketika sukses menggelar konser Air Supply,” tutur Tommy.

Sukses memboyong band asing dengan nama besar, menjadikan Tommy Pratama  semakin fasih dan piawai membawa band-band rock dengan nama yang lebih besar lagi. sebut saja Scorpion di Bandung, Megadeth di tahun 2001 dan 2007, Toto di tahun 2006, Limp Bizkit tahun 2003.

Bekerja di industri showbiz, merupakan hobi sekaligus passion bagi dirinya. Oleh karena itu, Original Production masih tetap bertahan, ditengah-tengah pemain baru dengan modal yang lebih besar, dan persaingan yang ketat.

Menganggapi realita tersebut, Tommy pun kembali hanya tersenyum, dan berkata, biarkan waktu yang menjawab semua itu. “Yang bisa bertahan, adalah mereka yang bisa membangun dan menjaga relasi bisnisnya dengan baik,” ungkapnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Ia memandang perlu dibentuknya suatu lembaga yang memiliki kekuatan hukum semacam asosiasi khusus,  yang terdiri dari para pemangku kepentingan dunia Showbiz, seperti promoter musik, lighting, dan lainnya,  yang dikomandani oleh salah satu Kementerian. 

Kenapa harus melibatkan unsur pemerintah, selain terkesan netral dari urusan bisnis, tujuannya pun agar pemerintah mengetahui dinamika yang terjadi di sekitar dunia Showbiz seperti promoter musik. “Kalau ketuanya dari salah satu promoter musik, dikhawatir ada kecurigaan atas nama bisnis,”

Setelah, ada lembaga hukum yang jelas, baru menertibkan etika bisnisnya, mengawal perjalanan uang pajak usai konser ke pemerintah. “Daripada gontok-gontokan tentang harga tiket konser dan lain sebagainya, lebih baik memikirkan menggalang dana untuk membuat tempat konser musik dengan kapasitas besar yang belum sempat dipikirkan oleh pemerintah,” jelas Tommy.

Indonesia mestinya harus belajar dari Negara tetangga. Sebab belum memiliki gedung konser musik seperti Singapore Stadium dengan kapasitas 12.000 orang, Itech Arena, di Thailand dengan daya tampung mencapai 18.000, Malaysia dengan Bukit Jalil Indoor dengan kapasitas 15.000. 

“Bahkan kita kalah dengan Philipina yang negaranya kecil. Mereka memiliki Araneta Colleseum dengan kapsitas 20.000 orang. Padahal, kita para promoter musik selalu membayar pajak konser sebelum pertunjukan itu dimulai,” tutup Tommy. (Fatkhurrohim/ars)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *